Bias Patriarkal dalam Tafsir Al-Qur’an dan Upaya Reinterpretasi Gender menurut Aminah Wadud Muhsin
DOI:
https://doi.org/10.62509/ajis.v1i1.364Keywords:
Tafsir Al-Qur’an, bias patriarkal, gender, Amina WadudAbstract
Dalam tradisi tafsir Al-Qur’an, dominasi ulama laki-laki telah menghasilkan bias patriarkal yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinatif, sehingga pemahaman terhadap ayat-ayat gender sering tidak sejalan dengan prinsip keadilan dan kesetaraan Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan menganalisis bias patriarkal dalam tafsir gender serta mengeksplorasi reinterpretasi yang dikembangkan melalui pendekatan hermeneutika feminis. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan studi kepustakaan, menganalisis teks Al-Qur’an, karya tafsir klasik, dan literatur tafsir kontemporer yang relevan, kemudian dikaji secara hermeneutik-kritis untuk menelaah hubungan antara teks, konteks, dan konstruksi makna tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bias patriarkal dalam sejarah tafsir berakar pada dominasi ulama laki-laki dan konstruksi sosial yang hierarkis, sementara Al-Qur’an secara normatif menegaskan kesetaraan ontologis manusia dan menempatkan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan. Pendekatan reinterpretatif yang menempatkan Al-Qur’an sebagai teks prioritas memungkinkan pembacaan yang lebih adil, inklusif, dan berorientasi pada prinsip kesalingan. Temuan ini menegaskan bahwa bias patriarkal bukan bagian dari ajaran Islam, melainkan konstruksi historis yang dapat dikritisi dan direinterpretasi untuk mewujudkan keadilan gender sesuai nilai-nilai Al-Qur’an.










